Pos Polisi

Kami perkenalkan Pos Polisi adalah sebuah situs yang baru diterbitkan dengan alamat https://pospolisi.wordpress.com  Situs ini akan menginformasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan Polisi Republik Indonesia atau Polri, yang akan menyajikan berbagai berita terkini ataupun berita Polisi dari zaman ke zaman, baik mulai asal mula keberadaan Polisi sejak zaman penjajahan dulu sampai era reformasi kini.

Lintasan sejarah Polisi yang begitu panjang merupakan hal yang menarik untuk disimak, Polisi sebagai pelindung, pengayom. penjaga, pengawal maupun pelayan  negara yang sejak zaman Majapahit disebut dengan Bhayangkara Negara telah membuktikan secara nyata bagaimana peran dan kiprah Polisi Republik Indonesia ini mempunyai andil yang cukup besar dalam melahirkan jabang bayi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagaimana Gajahmada Maha Patih Kerajaan Majapahit sebagai Kepala Bhayangkara Negara yang tidak saja sebagai pelindung, dan pengawal Kemaharajaan Tribuwana Tunggal Dewi, yang telah dapat menumpas segala kekrisuhan negara akibat kudeta dari para Senopatinya atau kerajaan bahwahan, tapi sebagai Bhayangkara sejati Gajahmada telah dapat mempersatukan Nusantara ini dibawah satu pemerintahan Kerajaan Nusantara Majapahit.

Sampai akhirnya datanglah para kolonialis dari Eropa, yang telah merubah wajah Polisi sebagai Bhayangkara negara menjadi Polisi sebagai alat negara kolonial, silih berganti bangsa eropa yang mencengkramkan kakinya di bumi pertiwi, dimulai dengan pelayaran yang dirintis oleh Bartholomeus Diaz pada tahun 1486 yang berhasil sampai ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan, harapan untuk menemukan benua baru diteruskan oleh Vasco de Gama pada tahun 1498, dan akhirnya pada  Tahun  1509 untuk pertamakalinya orang-orang Portugis menginjakan kakinya di Malaka, dan pada tanggal 10 Agustus 1511 pasukan Alfonso de Albuquerque menguasai Malaka, Sultan Malaka melarikan diri ke Riau, dan pada tahun 1512 Fransisco Serrao mendirikan Pos atau benteng   di Ternate, selanjutnya pada bulan Maret 1513 mendirikan benteng di Sunda Kelapa jayakarta, dan pada tahun 1515 menduduki Timor, sehingga orang-orang Portugis telah menyebar dan menduduki di kepulauan-kepulauan nusantara Majapahit yang dikemudian hari menjadi wilayah Republik Indonesia.

Setelah bangsa Portugis sukses menemukan jalan ke timur yaitu benua baru diantaranya wilayah nusantara Indonesia, bangsa Spanyol tidak mau ketinggalan, dengan didahului oleh pelaut perintisnya yang dipimpin oleh Christopher Columbus, akhirnya orang-orang Spanyol pada tahun 1521 tiba di Philipina dan melanjutkan perjalanan ke Selatan dan sampailah di Maluku pusat surga rempah-rempah yang dicari-cari bangsa eropa, pusat rempah-rempah telah ditemukan sehingga orang-orang Spanyol membuat benteng di Tidore pada tahun 1521, pada tahun 1560 mendirikan Pos di Manado.

Kedatangan pedagang-pedagang Spanyol di Maluku yang mendirikan benteng dan Pos Polisi di Tidore, telah menimbulkan persaingan yang sengit dengan pedagang-pedagang Portugis yang telah lebih dulu datang di Maluku dan mendirikan benteng dan Pos Polisi di Ternate, sehingga sering terjadi saling serang dan menenggelamkan masing-masing kapal pesaing. Perseteruan dan persaingan dagang itu akhirnya di selesaikan oleh Paus di Roma dengan perjanjian Sarogosa pada tahun 1692, berdasarkan perjanjian itu Portugis menguasai Malaka sampai ke Timor, dan Spanyol menguasai Philipina, sehingga pendudukan Spanyol di wilayah nusantara indonesia berakhir pada tahun 1692.

Bangsa Inggris pun tak mau ketinggalan untuk mencari sumber rempah=rempah yang pada saat itu menjadi komoditas yang sangat berharga yang bernilai seperti emas, sehingga pedagang-pedagang Inggris juga mencari jalan yang dirahasiakan oleh Spanyol dan Portugis itu yang dirintis oleh Francis Drake dan Thomas Cavendish dan akhirnya pada tahun 1579 sampailah di Ternate, dan pada tahun 1586 Thomas Cavendish kembali lagi ke Ternate untuk mengangkut rempah-rempah yang lebih banyak. akhirnya dengan persetujuan Ratu Elisabeth II pada tahun 1604 didirikan East India Company (EIC) dan mendirikan kantor dagang dan Pos Polisi di Ambon, Aceh, Jayakarta, Banjar, Jepara, Makasar dan mengkonsentrasikan kedudukannya di Bengkulu pada tahun 1685 – 1825, sehingga pada tahun 1714 mendirikan benteng Frort Marelborough, pada tahun 1818 -1824 gubernur Bengkulu Sir Thomas Stamford Raffles dan Isterinya Dr. Arnold yang seorang pakar botani menemukan bunga ajaib yang sangat besar di desa Pulau Lebar, Lubuk Tapi (Bengkulu Selatan) yang oleh penduduk asli setempat dinamakan Petimun Sikinlili atau Sirih Hantu, yang kemudian diperkenalkan pada dunia luar dan diberinama Rafflesia Arnaldy. Kehadiran Inggris di Maluku juga sama hal nya dengan kedatangan Spanyol telah menimbulkan persaingan dagang antara VOC dengan EIC yang saling serang dan menjatuhkan lawan dagangnya, pertempuran laut sering kali terjadi anatara pedagang VOC dengan EIC sehingga kasus persaingan ini juga diselesaikan dengan perjanjian The Anglo – Dutch Treaty of 1824 atau Traktat London, yaitu perjanjian yang mengatur wilayah kekuasaan Inggris  dan Belanda di Nusantara, Belanda menyerahkan kekuasaannya di Malaka dan Singapura pada Inggris dan Inggris menyerahkan kekuasaan di Bengkulu pada Belanda tahun  1624.

Kesuksesan pedagang Inggris menemukan jalan ke Maluku telah mendorong para pedagang Belanda untuk mengikuti jejaknya mencari emas hitam alias rempah-rempah ke Maluku, maka dengan dipimpin oleh  De Hotman pada tanggal 5 Juni 1596 tibalah di Sumatra dan pada tanggal 23 Juni 1596 tiba di Banten dan mendirikan kantor dagang dan Pos Polisi di Banten dan akhirnya pada tahun 1602 berdirilah Vereenigde Oast-Indidische Compegnie (VOC) yang berkedudukan di Jayakarta, dan setelah VOC bangkrut karena persaingan dagang dengan bangsa eropa lainnya maka kekuasaan dagang VOC di Nusantara Indonesia mulai 1 Januari 1800 diambil alih oleh kerajaan Belanda dan sejak itulah penjajahan negara/kerajaan Belanda atas Indonesia dimulai dan terakhir angkat kaki dari Indonesia pada Tahun 1963 dengan penyerahan Irian Barat pada pemerintah Negara kesatuan Republik Indonesia.

Untuk mengukuhkan eksistensinya di wilayah yang didudukinya, para kolonialis itu membentuk berbagai peraturan perundang-undangan mulai perundang-undangan yang mengatur masalah yang berkaitan dengan publik, privat, perdagangan, administrasi, pertanahan, dan keamanan. untuk terwujudnya tertib hukum yang ditetapkan oleh kaum Kolonial itu diperlukan Polisi sebagai alat negara kolonial untuk menegakan hukum kolonial, oleh karena itu wajah Polisi Bhayangkara sewaktu zaman Majapahit telah berubah menjadi wajah Polisi kolonial untuk kepentingan negara kolonial, sehingga timbul kesan para oknum Polisi kolonial yang bengis terhadap bangsanya sendiri.

Namun dibalik itu semua ada satu keuntungan yang diperoleh dari para Polisi kolonial itu, yaitu mereka telah didik untuk menjadi Polisi yang profesional, lewat pendidikan itulah yang nantinya sangat berperan besar dalam melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena paling tidak para Polisi eks kolonial itu paling sedikit adalah Polisi yang terpelajar, Polisi yang bisa baca tulis, Polisi yang mengerti hukum, Polisi yang memahami dan tahu bagaimana hukum itu harus ditegakan, yang sampai sekarang ini yaitu di zaman millenium ilmu penegakan hukum itu yang diajarkan oleh orang-orang kolonialis Belanda masih tetap dipakai. Mengapa demikian???, karena sampai ulang tahun kemerdekaan RI yang ke 67 tahun 2012 ini hukum yang ditegakan oleh Polisi Indonesia atau Polri yaitu hukum-hukum yang dulu diberlakukan kolonialis Belanda di Indonesia hanya diganti  nama dibahasa-Indonesiakan seperti WvS alias Wetbook van Strafrechts menjadi KUHP alias Kitab Undang_undang Hukum Pidana, HIR alias Hierzening Inland Reglemant menjadi KUHAP alias Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, dan lain-lain seperti BW alias Burgelijk Wetbook, WvK alias Wetbook van Kopenhandel, dan berbagai Ordonansi-ordonansi yang sampai sekarang masih berlaku.

Walau kolonialis Belanda yang begitu kejam merampas harta kekayaan bangsa Indonesia, namun disisi lain juga kita jangan menyembunyikan fakta sejarah hukum, bahwa kolonialis Belanda telah mewariskan wilayah negara kesatuan Indonesia sekarang ini lewat Teritoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonnantie 1939, yaitu pulau-pulau di nusantara Indonesia yang di klaim dikuasai oleh pemerintah kerajaan Belanda,  yang menyebutkan bahwa wilayah kekuasaan kerajaan Belanda berdasarkan Ordonantie itu adalah seperti adanya wilayah negara republik Indonesia sekarang ini, tanpa harus dengan perjuangan pertempuran atau peperangan untuk merebut suatu wilayah yang nantinya di klaim sebagai wilayah negara republik Indonesia, tapi cukup dengan perjuangan politik yang pada puncaknya dengan deklarasi Proklamasi 17 Agustus 1945.

Pada saat Proklamasi 17 Agustus 1945 hanya Polisi-Polisi kolonial Belanda yang terpelajar bisa baca tulis, bisa bertatanegara, yang telah mempraktekan bagaimana menjaga, mengawal pemerintahan suatu negara (walaupun saat itu negara kolonialis), yang bisa menjalankan roda pemerintahan yang akan berjalan ini, sehingga para Polisi kolonial yang berbangsa Indonesia yang mempunyai jiwa nasionalis, yang kesadaran Politiknya tinggi mendukung dan mmengawal lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah diproklamasikan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945, sehingga pada tanggal 22 Agustus 1945 dibawah pimpinan Komisaris Besar Polisi M. Yasin di Soerabaia memproklamasikan diri “bahwa Polisi kolonial Belanda sejak tanggal 22 gustus 1945 menjadi Polisi Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Setelah Indonesia merdeka berbagai bentuk pemerintahanpun silih berganti dialami, pada tahun 1949 Indonesia menjadi negara serikat atau  Republik Indonesia Serikat (RIS)   dengan sistem pemerintahan parlemanter, pada tanggal 17 Agustus 1950 berubah lagi menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan sisitem pemerintahan parlementer dipimpin oleh seorang Perdana Menteri dibawah UUDS 1950, dan terakhir dengan Dekrit Presiden 5 juli 1959 kembali ke UUD 1945 dengan sistem pemerintahan Presidensiil.

Kedudukan dan posisi Polisi sebagai alat negara penegak hukum, tentunya diwarnai dengan sistem pemerintahan yang dialami oleh negara republik Indonesia yang tercinta ini. dari zaman orde lama, ke zaman orde baru  dengan sistem pemerintahan yang sentralistik, dengan gaya kepemimpinan seorang presidennya, telah mewarnai wajah Polisi atau Polri mau dibentuk diperankan sebagai apa Polsi ini tergantung peranan para penyelenggara negara ini, Namun demikian bagaimanapun Polisi mau diperankan tetap berpulang kembali kepada hakekat Polisi itu sendiri, yang secara filosofis Polisi adalah “penjaga, pengekang, pengendali hati nurani dan hawa nafsu” sebagaimana di lontarkan para filosofis Yunani sebelum memasuki zaman tahun Masehi seperti Plato, Socrates, Aristoteles.

Sehingga boleh dikata sejarah Polisi Republik Indonesia atau Polri yang ada sekarang ini keberadannya di bumi pertiwi ini, seumur dengan sejarah bangsa Indonesia itu sendiri yang dimulai dari kerajaan Mulawarman di Kalimantan, Pajajaran di jawa Barat, Sriwijaya di Palembang, Singosari, Jenggala, Daha, sampai Majapahit sampai zaman kolonialis dan kemerdekaan. Polisi telah ada dengan eksistensi peran fungsi tugas pokok yang diembankan para raja kepada Bahayangkaranya. Jadi keberadaan Polisi Indonesia saat ini tidak dapat disamakan dengan keberadaan lembaga-lembaga negara, atau alat pemerintahan yang lain yang keberadan baru lahir setelah UUD 1945 ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

Dari perjalanan panjang Polisi itulah kiranya patut disimak segala sepak terjangnya dalam mengawal, melindungi, mengayomi, dan melayani serta menegakan hukum negara kesatuan Republik Indonesia. Pada saat ini Polisi sudah seperti artis yang selalu menjadi buah bibir masyarakat, Polisi yang dalam keseharian tugasnya selalu ada ditengah-tengah masyarakat, karena memang sudah kodratnya bahwa Polsi itu mengatur hidup dan kehidupan masyarakat, segala pri kehidupan seseorang atau masyarakat menjadi urusan Polisi, seorang bayi yang masih dalam kandunganpun selalu di jaga oleh Polisi agar ia tidak di aborsi, sampai lahir tumbuh dewasa sakit dan mati tetap menjadi urusan Polisi, mayat-mayat yang ada dipekuburan dijaga Polisi agar tidak dicuri orang lain, aneh memang tengkorak, kerangka manusiapun masih menjadi beban tugas Polisi untuk melindunginya.

Karena bertugas ditengah masyarakat itulah maka segala tingkah polah masyarakat dipelajari baik untuk kepentingan tugasnya ataupun kepentingan lainnya, tapi Polisi juga manusia biasa yang dilatih dan didik untuk taat hukum, namun sifat manusia selalu saja diikuti oleh bisikan-bisikan setan yang menyesatkan sehingga tidak sedikit Polsi yang juga tidak taat hukum, menjadi pelanggar hukum,  menjadi penjahat hukum, hanya bedanya ia beruniform dan penjahat beneran berpakaian preman.

Dari lintasan perjalan inilah saya mempunyai gagasan untuk menerbitkan suatu situs Website dengan lamat  https://pospolisi.wordpress.com guna memberi informasi kepada aparat Polisi atau anggota Polri atau masyarakat yang membutuhkan informasi mengenai Polisi Republik Indonesia, mulai sejarahnya sampai sepek terjangnya dalam  pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa dan negara Republik Indonesia yang kita cintai ini, berbagai peraturan perundangan yang dikeluarkan oleh Kapolri atau biasa disingkat dengan Perkap (Peraturan Kapolri) dan berbagai peraturan yang berlaku bagi Polri dan masyarakat.

Situs ini diberi nama PosPolisi karena Pos Polisi adalah sebuah tempat yang digunakan oleh Polisi untuk menerima segala urusan masyarakat ataupun seseorang, dan dari tempat itu pula segala aktifitas Polisi dimulai, supaya orang atau masyarakat itu mudah untuk mencari dimana keberadaan Polisi maka ditetapkanlah suatu tempat yang digunakan oleh anggota Polisi untuk berkumpul, bertemu, dan memulai pekerjaannya.

Pos Polsi adalah tempat dimana masyarakat mengharapkan dan mencari perlindungan, pengayoman, pelayanan dan segala informasi, dengan harapan yang sama situs inipun dapat menjadi tempat masyarakat mencari informasi yang berkaitan dengan Polisi atau Polri. semoga bermanfaat bagi semua.

Perihal Pandji Susilo
police, health, safety, prosperity

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: